call us

+62 812 1010 1131

call us

+62 812 1010 1131

Kredit Rumah, Apakah Termasuk Riba?

Kredit Rumah, Apakah Termasuk Riba?

Kredit rumah apakah termasuk riba? Lalu bagaimana bagi seorang muslim yang ingin memiliki rumah dengan cara ini? Yuk kupas tuntas dengan disertai dalil yang rajih (kuat).

Seiring dengan tren naiknya harga rumah, membuat banyak orang mengalami kesulitan untuk membeli rumah secara tunai. Tidak sedikit orang yang yang mengambil solusi dengan membeli rumah secara kredit atau dikenal dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Sayangnya metode ini dinilai menyalahi syariat Islam karena terdapat unsur riba. Benarkah demikian?

Kredit Rumah Termasuk Riba

Sebelum menjawab pertanyaan kredit rumah apakah termasuk riba, mari kita kenali lebih dekat apa itu Kredit Pemilikan Rumah (KPR). KPR adalah fasilitas pembiayaan atau pinjaman yang diberikan pihak bank kepada pembeli rumah dalam jangka waktu tertentu dengan sejumlah bunga.

Pada skema KPR, pihak bank memberikan pinjaman kepada nasabahnya untuk membeli rumah. Kemudian nasabah tersebut akan membayar pinjaman tersebut dengan mengangsur sesuai dengan tenor yang telah disepakati.

Setidaknya ada 3 pihak yang terlibat pada skema KPR, yaitu bank (lembaga pembiayaan), developer (penjual), dan pembeli rumah (nasabah). Dengan skema sebagai berikut:

1. Setelah melengkapi persyaratan administratif (KK, KTP, Slip Gaji), nasabah membayar sejumlah Down Payment (DP) kepada developer. Misalnya 30% dari harga rumah.

2. Nasabah mengajukan pembiayaan KPR kepada Bank. Nilainya sama dengan sisa harga rumah yang belum dibayar, misalnya 70%.

3. Nasabah membayar pembiayaan atau pinjaman tersebut hingga lunas, disertai bunga.

4. Rumah yang dibeli dijadikan jaminan (anggunana). Jika nasabah tidak bisa melunasinya akan dikenakan sita, sedangkan jika mengalami keterlambatan akan dikenakan denda.

Berdasarkan skema tersebut, kredit rumah apakah termasuk riba? Ya, KPR mengandung riba dan termasuk kategori haram menurut syariah Islam, dengan 3 alasan:

1. Terdapat Riba

Saat nasabah melakukan muamalah dengan bank terjadi riba. Riba tersebut berupa tambahan atas pokok pinjaman atau lebih dikenal dengan bunga. Para ulama telah sepakat bahwa setiap tambahan yang terdapat pada akad pinjaman (qardh) adalah riba serta hukumnya haram.

Imam Ibnul Mundzir menjadi salah satu ulama berpendapat demikian, “Para ulama telah sepakat bahwa pemberi pinjaman jika mensyaratkan (kepada penerima pinjaman) sepersepuluh dari nilai pinjaman sebagai tambahan atau hadiah, lalu dia memberikan pinjaman dengan ketentuan tersebut, maka pengambilan tambahan atas pinjaman itu adalah riba?” (ibnul Mundzir, Al ijma, hal 109).

Begitu pula Imam Ibnu Taimiyah memiliki pendapat yang sama, “Ulama telah sepakat bahwa pemberi pinjaman (qardh) jika mensyaratkan tambahan atas pinjamannya (qardh) maka tambahan itu haram.” (Majmu’ul Fatawa, Juz 29 hlm. 334)

Penting:
Terdapat akad pinjaman (qardh) pada skema KPR. Setiap tambahan atas pinjaman tersebut adalah riba dan hukumnya haram.
2. Menjadikan Objek Jual Beli Sebagai Jaminan

Pada KPR, rumah sebagai objek jual beli dijadikan jaminan (rahn) oleh konsumen. Menurut syariah aktifitas menjaminkan barang yang diperjual belikan (rahn al mabi’) adalah dilarang.

Hal tersebut didasarkan pada pendapat Imam Syafi’i yang dikutip oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Ar Rahn. “Jika 2 orang berjual beli dengan syarat menjadikan barang yang dibeli sebagai jaminan atas harganya, maka jual belinya tidak sah. Ini dikatakan Ibnu Hamid dan juga pendapat ‘Syafi’i. Sebab barang yang dibeli ketika disyaratkan’ menjadi jaminan (rahn), berarti itu belum menjadi-milik-pembeli” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 4/285, Kitab ar Rahn)

Imam Ibnu Hajar Al Haitami pun memiliki pendapat yang sama, “Tidak sah jual beli dengan syarat menjamin barang yang dibeli.” (ibnu Hajar al Haitami, al Fatawa al Fiqhiyah al Kubra, 2/2790)

Begitu pula dengan pendapat Imam Ibnu Hazm, “Tidak boleh menjual suatu barang dengan syarat menjadikan barang itu sebagai jaminan atas harganya. Kalau jual beli sudah terlanjur, harus dibatalkan (difasakh)” (Ibnu Hazm, al Muhalla, 3/417, masalah 1228)

3. Diberlakukan Denda atau Penalti

Pada skema KPR, pihak bank memberlakukan denda atau penalti kepada konsumen yang menyalahi Perjanjian Kredit (PK). Misalnya saat nasabah terlambat membayar angsuran per bulan. Begitu pula saat nasabah ingin melunasi sisa angsuran lebih awal dari waktu yang telah disepakati.

Jika ditelaah lebih jauh, denda atau penalti termasuk riba. Karena hal tersebut adalah tambahan atas pokok pinjaman. Sehingga menurut syariah denda atau penalti pada KPR adalah haram.

Kredit Rumah Tidak Termasuk Riba

Salah satu alasan terjadinya riba pada saat kredit rumah adalah karena adanya tambahan atas pokok pinjaman. Berbeda halnya jika kredit rumah dilakukan dengan akad jual beli kredit. Hal ini dibolehkan oleh syariah. Dalam fiqih, kegiatan ini dikenal sebagai al-baibi at-taqsith atau al-bai bi ad-dain atau al-bai’ li-ajal.

Prinsip jual beli kredit adalah adanya penyerahan barang atau objek jual beli dari penjual kepada pembeli saat akad, dengan pembayaran yang tertunda. Pembayaran tersebut bisa dilakukan secara sekaligus dalam satu waktu ataupun diangsur dalam jangka waktu tertentu.

Pada jual beli kredit umumnya harga kredit lebih mahal dibandingkan harga tunai (cash). Selain itu biasanya pembeli barang secara kredit diminta sejumlah Down Payment (DP) tertentu. Misalnya penjual menetapkan harga jual sebuah motor 20 juta untuk pembayaran tunai dan 26 juta jika dibayar secara kredit. Dengan DP angsuran sebesar 6 juta.

Kegiatan jual beli kredit seperti ini termasuk hal yang dibolehkan dalam syariah. Jumhur ulama dari empat mazhab seperti Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah membolehkan jual beli kredit. Meski penjual menetapkan harga jual kredit lebih mahal dari harga tunai.

Kebolehan aktivitas ini didasarkan pada keumuman dalil-dalil, seperti firman Allah SWT: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al baqarah 2/275)

Kata jual beli (al bai) di atas bersifat umum. Jual beli kredit termasuk salah satunya. Hal ini diperkuat oleh riwayat yang dinukil pada buku karya Hisyam Barghasy. Diriwayatkan bahwa Thawus, Al-Hakam, dan Hammad berkata bahwa tidaklah mengapa kalau penjual berkata kepada pembeli, ‘Aku jual kontan kepadamu dengan harga sekian, dan aku jual kredit kepadamu dengan harga sekian,’ lalu pembeli membeli dengan salah satu dari dua harga itu. (Hisyam Barghasy, Hukum Jual Beli Secara Kredit (terj.), hal. 75)

Kesimpulan: Kredit Rumah Apakah Termasuk Riba?

Untuk menjawab pertanyaan “kredit rumah apakah termasuk riba”? Maka jawabannya iya kalau akad yang dijalankan adalah pinjaman. Setiap tambahan atas pinjaman adalah riba dan hukumnya haram. Hal ini terjadi saat mengambil KPR dengan pembiayaan dari bank.

Kredit rumah tidak termasuk riba jika akad yang dijalankan adalah jual beli kredit. Penjual menyerahkan objek jual beli saat akad dengan pembayaran secara angsuran.

Wallahu a’lam.

*shariagreenland[dot]co[dot]id/blog/kredit-rumah-apakah-termasuk-riba/